Sebuah Perasaan

Jauh dari rumah. Rasanya… Kacau. Sedih. Sakit. Galau.

Ada perasaan aneh, di rumah jarang sekali kita menunjukkan sikap sayang, cinta, perhatian kepada keluarga. Tapi saat jauh dari rumah, ada bagian yang juga ikut hilang. Kebersamaan, canda tawa terbuka kembali di ingatan kita. Seringkali kita menunjukkan sikap acuh, tak peduli kepada keluarga kita sendiri. Termasuk saya. Dan sekali lagi saat jauh dari rumah, kita justru semakin rindu dan rindu. Air mata rindu yang bahkan tidak pernah keluar di depan mata mereka, sekarang turun bebas saat mereka jauh.

Ada sedikit penyesalan, kenapa perasaan ini baru datang saat mereka jauh dari mata kita? Kenapa tidak setiap hari kita memberi perasaan sayang dan rindu ini kepada mereka dimanapun? Sedang mereka, orang tua kita selalu memberi perasaan cinta melebihi orang lain. Mereka rela melakukan apapun demi keinginan anaknya. Berjuang tanpa lelah. Sedangkan kita? Hanya untuk mengucapkan terima kasih yang tulus saja itu sangat sulit untuk dilakukan.

Ibu, sosok wanita yang lembut dan menyayangi anaknya. Ibu rela tidak makan asal anak-anaknya kenyang. Ibu rela menghabiskan waktu istirahatnya untuk anaknya yang sakit. Menungguinya, menyemangatinya. Rela berjalan kaki puluhan meter untuk mengantarkan anaknya. Memberikan kasih sayang sepenuh hatinya. Ibu selalu memaafkan kesalahan anaknya sebelum kita minta maaf. Ibu bersikap keras untuk memperingatkan anaknya. Untuk menasehatinya, untuk menjaga kita. Karena ibu lebih dulu merasakan dunia keras ini. Seorang ibu tidak ingin anaknya masuk ke tempat dan cara yang salah. Mereka ingin yang terbaik untuk anaknya. Mereka selalu mendoakan anaknya sebelum kita meminta. Memberikan asupan makanan yang sehat. Ibu tidak menginginkan balasan apapun. Ibu hanya ingin anak-anaknya tumbuh dewasa, cerdas dan membanggakan. Ibu selalu mendoakan yang terbaik dan tidak menginginkan sesuatu yang buruk. Aku cinta kamu mi…

Ayah, sosok lelaki yang selalu di depan jika kita menghadapi masalah. Mengajarkan kita banyak hal. Meskipun terkadang ayah cuek, mementingkan pekerjaannya, tidak perhatian. Tapi ayah adalah sosok istimewa di kehidupan kita selain ibu. Ayah akan mencari cara apapun agar cita-cita anaknya tercapai. Membanting tulang, bekerja siang dan malam untuk mencari nafkah agar kita bisa hidup nyaman. Agar kita bisa bersekolah sampai tingkat tinggi, Ayah rela mengusahakan apapun. Meski sosoknya keras dan disiplin, ayah tidak akan menginginkan anaknya terluka. Ayah akan membela kita di garis terdepan. Menggenggam tangan kita, menyemangati. Mendorong kita dari belakang dengan doa dan usaha kerasnya. Tanpa kita sadari, ayah rela bekerja keras meskipun terluka. Bagi ayah, luka itu tidak sebanding dengan kesedihan anak-anaknya. Abi, you are my superdad..

Adik-adikku, mereka beragam. Sifat tidak sama. Yang satu manja, lainnya mandiri. Yang satu peduli, yang lain cuek. Meski sering membuat onar, gaduh, tapi itulah yang membuat kehidupan saya menjadi rame dan istimewa. Mengahadapi lima karakter berbeda membuat saya memahami apa yang mereka inginkan. Mereka gaduh, karena mencari perhatian. Mereka manja karena mereka belum dewasa. Bagi saya mereka adalah penyemangat hari-hari saya. Jika lelah, hanya melihat tingkah manja dan lucu mereka membuat saya senang. Mengisi kehidupan saya dengan penuh kejutan.

Bagi saya jauh dari rumah, adalah awal yang menyedihkan tapi akan memberikan keajaiban luar biasa di akhir cerita hidup kita ini. Hidup jauh memberikan lembaran baru untuk kita menjadi lebih dewasa dan makin menyayangi mereka.

–Tulisan ini dibuat dengan penuh air mata-

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s