22 Desember…

Foto Kasih Sayang Seorang Ibu 22 Desember…

Ada yang tau ini hari apa? Hari Ibu.

Hari ini atau lebih tepatnya kemarin, seharusnya saya sudah pulang ke rumah di Bangil karena pekan sunyi sebelum UAS. Tapi, karena sesuatu hal membuat saya belum berangkat untuk pulang. Dan karena hari ini adalah Mom’s Day, saya membuat post ini untuk Umi saya di rumah.

First word… I LOVE YOU, Umi…

Oke. Jadi kenapa hari Ibu?

Ibu, wanita yang lembut, hebat dan sayang kepada setiap anaknya. Beliau hebat dalam segala hal. Saya yakin tentang itu. Bagaimana tidak? Mari mengingat saat ibu mengandung kita. Ibu membawa kita kemanapun dia pergi selama 9 bulan. Perjuangan sekali. Dimana ibu mempertaruhkan nyawanya tiap detik saat ia berjalan. Mencoba agar kita baik-baik saja di dalam rahimnya. Ibu berjalan sangat hati-hati di antara puluhan manusia. Sangat hati-hati. Dia berjalan dengan penuh dzikir, berharap Allah menjaganya dan menjaga kita. Dia akan sangat bersyukur, begitu dia sampai di rumah dalam keadaan selamat. Tidak ada satupun yang menyakiti kita.

Setelah 9 bulan, dia berjalan kemanapun ia pergi dan selalu menjaga kita. Dia kembali mempertaruhkan nyawanya. Hidup dan matinya. Untuk apa? Agar dia bisa melihat kita yang tersenyum sehingga dia bahagia, kita yang menangis sehingga ibu menghibur kita, kita yang merajuk sehingga ibu gemas melihat tingkah kita. Ibu sekuat tenaga berusaha agar kita keluar dari rahimnya dengan selamat. Ibu mempertaruhkan nyawanya dengan berdoa kepada Yang Kuasa, berdoa agar kita sehat dan tidak kurang suatu apapun. Ibu menahan rasa sakitnya yang amat dalam, agar kita bisa selamat. Dan saat kita keluar dengan tangisan, ibu tiada henti mengucap syukur. Melihat kita dengan penuh haru. Mengucap ribuan syukurnya dalam hati saat melihat anaknya yang selamat, yang sehat, yang sempurna. Di dalam hatinya, ia berjanji akan menyayangi kita, melindungi kita dan mendidik kita menjadi anak yang shaleh shalehah.

Ibu memberikan nama yang begitu cantik dan indah. Nama yang penuh dengan doa. Nama yang selalu mengingatkan ia, bahwa ia mencintai kita. Saya masih ingat dengan jelas, saat saya masih kecil dan bertanya, “Umi, apa arti namaku? Atikah Nisa’ Qonita?” dengan tersenyum umi saya menjawab, “Wanita yang taat dan pemurah” bukankah itu indah? Ia berdoa, berdoa agar saya jadi wanita yang selalu taat kepada-Nya dan wanita yang pemurah.

Saat kita kecil, ibu selalu menjaga kita. Tidak membiarkan kita hilang dari pandangannya. Menggendong kita dengan lembut. Menjaga kita agar tidak disentuh orang lain yang berniat buruk. Menyusui kita dengan penuh kebahagiaan. Ibu merekam semua kegiatan kita dalam ingatannya. Memberikan kita kasih sayangnya dan perhatiannya. Memenuhi tiap keinginan kita dengan kemampuannya. Ibu memberikan hujan kasih sayang kepada kita, anak-anaknya sama rata. Saat kita sakit, ibu tidak tidur untuk menunggui kita. Ibu bersikap keras, untuk menasehati kita karena dia takut. Ibu takut kita masuk di jalan yang salah.

Tiap detik kita tumbuh, tumbuh dewasa. Tumbuh menjadi wanita yang shalehah, pria yang gagah. Ia tersenyum bahagia melihat kita dewasa. Melihat kita jadi orang yang pintar, orang yang beriman, orang yang menciptakan kebahagiaan untuk orang lain. Ia bahagia, ia bangga dengan kita. Ia bangga dengan prestasi dan sikap kita.

Ibu tidak pernah meminta apapun, ia hanya menginginkan kita hidup lebih baik darinya. Ia tidak mau, anak-anaknya mengalami kesulitan yang pernah ia hadapi dulu. Ibu dan ayah kita akan berusaha sekuat tenaga agar kita sukses. Mereka bekerja keras agar kita hidup dengan asupan makanan yang bergizi. Bersekolah di tempat terbaik. Memakai pakaian yang indah. Mereka ikhlas, meski tangan mereka jadi kasar, tidak selembut dulu. Meski badan mereka kurus, mereka bahagia asalkan kita makan makanan yang sehat. Mereka rela melakukan apapun untuk senyum di wajah kita.

Sedangkan kita? Pernahkah kita memikirkan pengorbanan apa yang sudah ibu dan ayah kita lakukan untuk kita? Kita hanya meminta, meminta dan meminta. Kita memikirkan pengorbanan itu, tapi kita hanya diam. Diam tidak melakukan apa-apa. Atau kita hanya menunggu sampai kita sukses dan baru membalas budi baik mereka, terutama ibu?

Kita membentak ibu dengan kerasnya, memenuhi nafsu yang salah. Kita hanya meminta apa yang kita inginkan, tidak memikirkan kerja keras mereka agar keinginan kita terpenuhi. Tidak pernah terfikir, bahwa mereka tidak bisa tidur untuk memikirkan bagaimana anakku bersekolah besok, bagaimana anakku membayar uang sekolah, bagaimana anakku makan. Tidak pernah terfikir, ibu bangun tengah malam untuk berdoa. Meminta agar besok kita bisa sekolah, besok kita bisa makan.  Ya, keriput yang ada di wajah mereka, itu semua karena kita. Karena memikirkan kita, anak-anaknya.

Apakah baru sekarang kita sadar? Apa baru sekarang kita memikirkan mereka? Lalu, apa kita sudah terlambat? Terlambat untuk membalas kebaikan mereka? Dan bagaimana kita membalasnya? Membalas kebaikan yang sudah setinggi gunung itu? Bagaimana kita membalasnya?

Balas pengorbanan mereka dengan menjadi anak yang mandiri, anak yang tidak lagi mengucapkan ‘Ah’ saat ibu meminta, anak yang berbakti, anak yang membanggakan. Balas pengorbanan mereka dengan menyayangi mereka.

Meski kita jauh dari mereka, doakan mereka. Berdoa agar mereka sehat, agar mereka makan dengan baik. Agar mereka selalu tersenyum. Saat mereka ada di hadapan kita, tunjukkan kasih sayang kita dengan membuat mereka bahagia. Bersihkan rumah tanpa ibu meminta. Bantulah ayah dengan pekerjaannya. Lakukan hal-hal kecil yang membuat mereka bahagia.

Second and the last word… I LOVE YOU MI….

Jadilah anak yang berbakti meski kita semua tau, kita tidak bisa membalas semua kebaikan mereka yang sudah setinggi gunung itu.

Advertisements

2 thoughts on “22 Desember…

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s